Acara Dandangan di Kudus

Sabtu, 03 Januari 2015


Setiap menjelang Bulan Puasa, kota Kudus memiliki tradisi yang oleh warga setempat dinamai “Dandangan”.  Lokasi Dandangan berpusat di jalan Menara Kudus membentang ke jalan-jalan di sekitarnya ke timur hingga perempatan Pekojan dan ke barat hingga Pasar Jember (jalan Kudus-Jepara).
 Tradisi Dandangan ini awalnya pada zaman dahulu masyarakat Kudus berkumpul di depan Menara Masjid "Al Aqsha" yang kini populer dengan sebutan Masjid "Menara" Kudus, menunggu pengumuman awal puasa Ramadhan dari Syeikh Dja'far Sodiq (dikenal dengan sebutan Sunan Kudus). Karena Syeikh Dja'far Sodiq adalah pemimpin agama Islam di Kudus dan ahli falak. Setelah keputusan awal puasa itu disampaikan oleh Kanjeng Sunan Kudus, maka dipukullah beduk di Masjid Menara Kudus, "dang-dang-dang", begitu bunyinya. Dari suara beduk itulah, istilah Dandangan lahir.
Namun seiring perkembangannya Dandangan yang dulu dikenal dengan acara tabuh beduk saja, sekarang menjelma menjadi acara selayaknya pasar malam. Saya rasa penamaan ‘‘Dandangan’’ ini mirip dengan ‘‘Dugderan” di Semarang, yang juga berasal dari suara bedug: “dug dug dug, dher”. Tetapi ciri khas Dandangan ini adalah menyampaikan awal Ramadhan dengan suara bedug "dang-dang-dang".
Pada masa Sunan Kudus penjaja dagangan dari masyarakat sekitar Menara Kudus, dagangan yang ditawarkan hanya makanan yang siap konsumsi. Beriring perkembangan zaman jumlah pedagang sangat banyak dan beragam barang yang ditawarkan. Barang-barang atau produk yang ditawarkan sangat beragam, antara lain: pakaian, sepatu dan sandal, boneka, perhiasan, furnitur, hasil kerajinan, mainan anak-anak, dan berbagai jenis makanan. Di sini juga ada penjual kerak telur khas Betawi.
Pada masa Sunan Kudus Dandangan dibuka pada malam hari. Seiring perkembangan zaman Dandangan dibuka hampir sepanjang hari, dari pagi hingga malam hari, pengunjung acara ini paling banyak pada malam hari, selepas Maghrib hingga menjelang tengah malam. Pada saat jumlah pengunjung memuncak inilah kemacetan jalan-jalan di sekitar lokasi tak terelakkan. 
Jalan tempat lokasi utama Dandangan itu sendiri telah ditutup oleh pihak penyelenggara Dipenda Kudus. Hanya sepeda motor yang dapat lewat dengan berjalan lambat di sela lapak-lapak para pedagang dan lalu-lalang pengunjung yang berjalan kaki.
Pengunjung Dandangan meliputi segala usia, mulai anak-anak hingga lanjut usia, pria dan wanita. Hanya saja usia remaja tampak mendominasi. Kemungkinan besar, pengunjung ini tidak hanya berasal dari Kudus, tetapi juga dari daerah-daerah sekitarnya seperti Demak, Jepara, Pati, dan Grobogan.
 Tradisi Dandangan tentunya harus dilestarikan terus untuk generasi-generasi berikutnya. Karena tradisi ini merupakan cerminan masyarakat Kudus untuk menyambut datangnya Bulan Ramadhan.





Tradisi di Bulan Maulud

Jumat, 02 Januari 2015



Kudus merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang sebagian besar masyarakatnya dihidupi dengan usaha kretek, tak heran maka kota ini disebut dengan Kota Kretek. Kota Kudus ini memiliki banyak sekali tradisi. Salah satunya adalah Ampyangan. Ampyangan sendiri berasal dari salah satu jenis krupuk yang terkenal pada zaman dahulu, yaitu krupuk ampyang. ampyangan ini disebut juga dengan tradisi ampyang maulid. Tradisi ini bisanya dilakukan oleh masyarakat Desa Loram Kulon Kabupaten Kudus dalam rangka memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW, yaitu setiap tanggal 12 Rabbi’ul Awal tahun Hijriyah.
Tradisi ini dilakukan dengan melakukan arak-arakan makanan hasil bumi atau hasil kreatifitas masyarakat. Salah satu makanan wajib yang diarak yaitu krupuk ampyang. Makna dari krupuk ampyang adalah sebagai lambang makanan yang begitu disukai oleh masyarakat Loram Kulon. Begitu pula makanan, hasil bumi, kreatifitas masyarakat adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat Allah. Selain itu ada nasi kepel dalam arak-arakan tersebut. Makna dari nasi kepel tersebut adalah sebagai lambang persatuan masyarakat desa Loram Kulon Kudus.
Ampyang merupakan tradisi yang lekat dengan perjuangan Sultan Khadlirin dalam menyebarkan Islam di Kudus bagian selatan. Saat menyiarkan Islam di Loram dan sekitarnya, bulan Maulid yang bertepatan dengan hari lahir Rasulullah Muhammad SAW. Suami Ratu Kalinyamat ini mengajak masyarakat sekitar merayakan dengan menggunakan pernak-pernik kerupuk dengan bahan baku tepung yang biasa dibuat masyarakat. Dari situlah tradisi ini berasal.
Peserta Ampyang Maulid ini merupakan masyarakat Loram Kulon sendiri yang terbagi dalam tiap-tiap mushola di masing-masing dukuh. Ada peserta berarti ada jurinya. Juri yang bertugas menilai kreatifitas mana yang paling bagus adalah terdiri dari tokoh masyarakat dan sesepuh desa. Aspek – aspek yang dinilai antara lain: aspek kesenian, aspek pendidikan, aspek keagamaan, serta aspek sosial

foto tradisi Ampyang, 14-01-2014




Gurit-Gurit


Ireng buteng tanpa sinar
Tanpa geni
Tanpa lilin
Tanpa dilah
Rembulan ora padha katon sipate
Lintang padha lelungan ora katon kaya biyasane
Pratandha apa iki
Menungsa padha golek pepadang
Padha dedongan marang kang gawe urip
Padha ngurus awake dhewe-dhewe
Nyeseli perkara kang wus kalakonan
Golak-galok panjaluk ampunan




Atosing penggalihmu
Saiki, aku pancen nora bisa
Aku nora bisa panjaluk
Lan panjaluk
Nanging sak atos-atosing penggalihmu
Mesti bakalan pecah
Lan sing mecahke menika aku
Lan aku panjaluk
saking dasaring penggalihmu
Aku katresnan marang sliramu


Tradisi


Menelisik MERON di sukolilo  Pati, Antara Budaya, Tradisi dan Kerukunan. Sepanjang jalan Sukolilo akan penuh sesak tiap bulan maulud (robi"ul awwal) pada tiap tahunnya, masyarakat akan berduyun-duyun untuk menyaksikan acara Tradisional yang mereka sebut dengan "MERON".
Tradisi Meron merupakan tradisi tahunan yang digelar masyarakat Desa Sukolilo setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi itu tumbuh sejak abad XVII. Waktu itu, Sukolilo masih kademangan di bawah Kasultanan Mataram di bawah perlin dungan lima bersaudara yang kerap disebut pendawa Sukolilo, yaitu Sura Kadam, Sura Kerto, Sura Yuda, Sura Dimejo, dan Sura Nata. Upacara ini ditandai dengan arak-arakan nasi tumpeng gunungan yang menyerupai tombak yang ujungnya terdapat lingkaran berisi ayam jago atau masjid.
 Gunungan itu sangat khas, karena terbagi menjadi tiga bagian. Bagian teratas adalah mustaka yang berbentuk lingkaran bunga aneka warna berisi ayam jago atau masjid. Ayam jago menyimbolkan semangat keprajuritan, masjid merupakan semangat keislaman, dan bunga simbol persaudaraan. Bagian kedua gunungan itu terbuat dari roncean atau rangkaian ampyang atau kerupuk aneka warna berbahan baku tepung dan cucur atau kue tradisional berbahan baku campuran tepung terigu dan tepung. Ampyang melambangkan tameng atau perisai prajurit dan cucur lambang tekad manunggal atau persatuan. Adapun bagian ketiga atau bawah gunungan disebut ancak atau penopang. Ancak itu terdiri ancak atas yang menyimbolkan iman, ancak tengah simbol islam, dan ancak ba wah simbol ikhsan atau kebaikan.
Masyarakat Sukolilo mempercayai barangsiapa memperoleh salah satu dari bagian-bagian gunungan itu akan mendapatkan berkah sesuai dengan makna lambang-lambang itu,
Menurut bahasa:
1.   Bahasa Kawi, Meron = Meru atau gunung. Artinya, Meron adalah upacara yang berbentuk gunungan.
2.   Bahasa Jawa Kuno, Meron = Merong atau mengamuk. Dahulu terbentuknya meron pada saat suasana peperangan. Meron = Emper (bahasa jawa) atau pelataran atau halaman depan rumah. Karena sebelum di arak, terlebih dahulu meron dipajang di halaman depan rumah masing-masing perangkat desa.

3.   Bahasa Arab, Meron = Mi'roj. Artinya memuncak atau hubungan manusia dengan Allah. Pemenggalan Bahasa, Meron = "Me" berarti rame atau ramai. "ron" berarti tiron atau meniru. Jadi, Meron berarti ramene tiron - tiron atau keramaiannya meniru - niru, yaitu meniru tradisi Sekaten di Jogjakarta.

Sejarah alat musik gendang

Kamis, 01 Januari 2015


Alat musik gendhang, bisa juga disebut dengan kendang atau kendhang, merupakan salah satu alat musik yang biasa kita temui dalam musik gamelan jawa. Gendang yang baik terbuat dari kayu nangka atau cempedak, kemudian juga menggunakan kulit kerbau untuk bam atau permukaan bagian yang memancarkan bunyi ketukan bernada rendah, dan kulit kambing untuk chang atau permukaan luar yang memancarkan bunyi ketukan bernada tinggi.
Dalam sejarah alat musik gendang, alat musik gendang telah dikenal di Jawa sejak pertengahan abad ke-9 Masehi dengan banyak nama seperti padahi, pataha, murawaatau muraba, mrdangga, mrdala, muraja, panawa, kahala, damaru dan kendang. Penyebutan gendang dengan berbagai nama dalam sejarah alat musik gendang menunjukan adanya berbagai macam bentuk, ukuran juga bahan yang digunakan. Seperti gendang berukuran kecil yang ditemukan dalam arca yang dilukiskan sedang dipegang oleh Dewa, gendang tersebut dikenal Damaru. Dalam relief-relief candi dapat dilihat bukti keberadaan dan keanekaragaman gendang. Seperti di Candi Borobudur, dilukiskan bermacam-macam bentuk gendang, silndris langsing, bentuk tong asimetris, dan bentuk kerucut. Kemudian dalam sejarah alat musik gendang juga ditemukan dalam candi-candi yang lainnya seperti di Candi Siwa di Prambanan, Candi Tegawangi dan juga Candi Panataran.
Sejarah alat musik gendang berlanjut, Jaap Kunst menyatakan ada kesamaan antara sumber tertulis di Jawa Kuno dengan sumber tertulis di India. Dan hal ini membuktikan bahwa telah terjadi kontak budaya antara keduanya dalam bidang seni. Namun,dalam sejarah alat musik gendang, tidak dapat disimpulkan bahwa gendang Jawa mempunyai pengaruh dari India. Ini karena jenis alat musik membranofon ini diperkirakan sudah ada sebelum adanya kontak budaya dengan India. Seperti di zaman Perunggu telah dikenal adanya “Moko” dan “Nekara”, dan Nekara di zaman tersebut digunakan sebagai genderang.
Sejarah alat musik gendang berlanjut, ada jenis alat musik lain yang bunyinya berasal dari selaput kulit, seperti “Bedug” dan “Trebang”. Istilah bedug dapat dijumpai dalam kitab yang lebih muda yaitu “Kidung Malat”. Dalam Kakawin Hariwangsa, Ghatotkacasraya dan Kidung Harsawijaya, instrumen tersebut dikenal dengan istilah “Tipakan”. Tidak hanya itu, ada juga yang dikenal dengan istilah “Tabang-tabang” dalam kitab Ghatotkacasraya dan kitab Sumanasantaka, yang kemungkinan berkembang menjadi Tribang.
Dalam sejarah alat musik gendang, dilihat dari ukurangnya gendang dibagi menjadi beberapa jenis. Ada gendang atau kendang yang berukuran kecil disebut dengan “Ketipung”, lalu ada gendang atau kendang yang berukuran sedang disebut dengan kendang “Ciblon” atau “Kebar”. Sedangkan gendang atau kendang yang berukuran besar, yang merupakan pasangan dari ketipung, dinamakan dengan kendang gedhe atau biasa disebut dengan “kendang kalih”. Dalam sejarah alat musik gendang, terdapat gendang atau kendang yang khusus digunakan untuk pewayangan yaitu “Kendang Kosek”.
Untuk para pemain musik gamelan yang profesional, gendang atau kendang merupakan alat musik yang dimainkan dengan menggunakan naluri, sehingga apabila kita mendengarkan pemain gendang tersebut memainkan gendang, ada perbedaan nuansa bunyi, dan itu semua tergantung kepada orang yang memainkannya.


Tokoh Wayang

Bima

Nama lain Bima adalah Werkudara yang artinya perut srigala, dan merujuk kepada kegemarannya yaitu makan. Nama lain dari julukannya adalah Bimasena yang berarti panglima perang.
Bima memiliki sifat gagah, berani, teguh, kuat, tabah, patuh, jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga ia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus ataupun duduk didepan lawan bicaranya.
Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewa Ruci. Ia memiliki keistimewaan dan ahli bermain gada, serta memiliki berbagai macam dan senjata, antara lain: kuku pancanaka, rujakpala, alugara, bargawa (kapak besar) dan bargawasta. Sedangkan jenis ajian yang dimilikinya antaralain: aji bandung bandawasa, aji katuglindhu, aji bayubraja, dan aji blabak pangantol-antol.
Bima juga mempunyai pakaian yangmelambangkan kebesaran, yaitu: gelung pudaksategal, pupuk jarot asem, sumping surapati, kuletbahu candrakirana, ikat pinggang nagabanda dan celana cinde udaraga. Sedangkan beberapa anugrah Dewata yang diterimanya antara lain: kampuh atau kain poleng bintuluaji, gelang candrakirana, kalung nagasasra, sumping surengpati dan pupuk pudak jarot asem.
Pada masa kanak-kanak Pandhawa dan Kurawa, kekuatan Bima tidak ada randingannya diantara anak-anak sebayanya. Kekuatan tersebut sering digunakan untuk menjahili para sepupunya, yaitu Kurawa. Salah satu Kurawa yaitu Duryudhana, ia menjadi benci dengan sikap Bima yang selalu jahil. Kebencian tesebut tumbuh sehingga Duryudhana berencana ingin membunuh Bima.
Pada suatu hari, ketika para Kurawa dan Pandhawa pergi ke daerah sungai Gangga, Duryudhana menyuguhkan makanan dan minuman untuk Bima, dimana makanan tersebut telah dicampur dengan racun. Karena Bima tidak senang mencurigai seseorang, ia memekan makanan yang diberikan Duryudhana. Tak lama kemudian Bima pingsan. Lalu tubuhnya diikat-kua oleh Duryudhana dengan menggunakan tanaman menjalar. Setelah itu dihanyutkan kesungai Gangga dengan rakit.
Saat rakit yang membawa Bima sampai ditengah sungai, ular-ular yang hidup disekitar sungai tersebut mematuk badan Bima. Ajaibnya, bisa yang mematuk badan Bima berubah menjadi obat bagi racun yang dimakan Bima.Ketika sadar, Bima langsung melepaskan ikatan tanaman menjalar yang meliliti tubuhnya, lalu ia membunuh ular-ular yang menggigit tubuhnya. Beberapa ular lari untuk menemui rajanya, yaitu Naga Basuki.
Saat naga Basuki mendengar bahwa putra Pandu yang bernama Bima telah anak buahnya, ia segera menyambut Bima dan memberinya minuman mujarab. Minuman tersebut diminum beberapa mangkuk oleh Bima, sehingga tubuhnya menjadi sangat kuat. Bima tinggal di istana Naga Basuki sampai delapan hari, setelah itu ia pulang. Saat Bima pulang, Duryudhana kesal karena Bima masih hidup. Ketika para Pandhawa mengetahui kalau kebencian dari Duryudhana semakin besar, mereka mulai berhati-hati.
Pada usia remaja, Bima dan saudara-saudaranya dilatih oleh guru Drona. Dalam mempelajari senjata, Bima lebih memusatkan perhatian untuk menguasai ilmu untuk menggunakan gada, seperti Duryudhana. Bima menikah dengan Arimbi, dari perkawinan merekalahir putra yang diberi nama Gatotkaca. Bima dan keluarganya tinggal selama beberapa bulan bersama dengan Arimbi dan Gatotkaca, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.
Dalam perang di Khurusetra, Bima berperan sebagai komandan tentara Pandhawa. Ia berperang dengan menggunakan senjata gada yang sangat mengerikan. Pada hari terakhir perang Bharatayudha, Bima perang melawan Duryudhana dengan menggunakan senjata gada. Pertarungan berlangsung sengit dan lama, sampai akhirnya Kresna mengingatkan Bima bahwa ia telah bersumpah akan mematahkan paha Duryudhana. Seketika Bima mengayunkan gada kearah gada kerah paha Duryudhana. Setelah pahanya diremukkan Duryudhana jatuh ke tanah, dan beberapa kemudian ia mati.
Bima tinggal di Jodipati, wilayah indraprasta. Ia mempunyai 3 orang istri dan 3 orang anak, yaitu:
1.  Nagagini (mempunyai anak bernama Arya Anantareja)
2.  Arimbi (mempunyai anak bernama Gatot Kaca)
3.  Urangayu (mempunyai anak bernama Arya Antasena).



Daftar Pustaka
Nanda MH, (2013). Wayang Dan Tokoh. Yogyakarta.Penerbit: Bintang Cemerlang


Tentang Wayang

Sejarah Wayang

WAYANG salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan. Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa.
 Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.
Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam_ pewayangan sengaja diciptakan para budayawan In­donesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk mem­perkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.
Dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897), ahli sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau menunjukkan keyakinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang.
Asal Usul
Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt.
Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.
Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India. Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pe­wayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain.
Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indo­nesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur­nya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga In­dia, Walmiki. Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi In­dia, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 – 1160).
Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata “mawa­yang” dan `aringgit’ yang maksudnya adalah per­tunjukan wayang. Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Pendapatnya itu didasarkan atas tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehis­toric Research in the Netherland Indie (1945) dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indone­sia halaman 987.
Kata `wayang’ diduga berasal dari kata `wewa­yangan’, yang artinya bayangan. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak. Jenis gamelan lain dan pesinden pada masa itu diduga belum ada.
Untuk lebih menjawakan budaya wayang, sejak awal zaman Kerajaan Majapahit diperkenalkan cerita wayang lain yang tidak berinduk pada Kitab Ramayana dan Mahabarata. Sejak saat itulah cerita­cerita Panji; yakni cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit, mulai diperkenalkan sebagai salah satu bentuk wayang yang lain. Cerita Panji ini kemudian lebih banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber. Tradisi menjawakan cerita wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, di antaranya oleh para Wali Sanga. Mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, di antaranya cerita Damarwulan.
Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Pada awal abad ke-15, yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.
Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan mahabarata makin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam. Sisilah itu terus berlanjut hingga sampai pada raja-raja di Pulau Jawa. Dan selanjutnya, mulai dikenal pula adanya cerita wayang pakem. yang sesuai standar cerita, dan cerita wayang carangan yang diluar garis standar. Selain itu masih ada lagi yang disebut lakon sempalan, yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita pakem. Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah. Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa.
Menurut Sir Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Inggris yang pernah berkuasa atas Pulau Jawa pada abad ke-17, dalam bukunya History of Java, nama-nama kerajaan dalam pewayangan terletak di pulau Jawa, terutama di Jawa Tengah.
-      Mandura, terletak di Pulau Madura sebelah barat.
-      Dwarawati, terletak di daerah Pati, Jawa Tengah.
-      Mandraka, terletak di sekitar Tegal dan Pekalongan.
-      Banjarjunut, terletak di sekitar Kebumen.
-      Talkanda, terletak di daerah Banjar­negara.
-      Indrakila, terletak di sekitar Jepara.
-      Pringgadani, terletak di utara Pegu­ngan Dieng.
-      Amarta, terletak di daerah Tanah tinggi Dieng.
-      Astina, terletak di barat laut kota Yogyakarta sekarang.


Daftar Pustaka
Haryanto. S., 1988, Pratiwimba Abdhiluhung, Sejarah dan Perkembangan Wayang. Penerbit Djambatan, Jakarta.
MH, Nanda. 2013. Wayang dan Tokoh. Yogyakarta: Bintang Cemerlang.



 
Design by Pocket