Tampilkan postingan dengan label Kasusastraan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasusastraan. Tampilkan semua postingan

Alat Musik Gamelan

Sabtu, 03 Januari 2015




Penjelasan alat musik saron yang terdapat di daerah pulau Jawa dan Bali. Saron atau disebut dengan juga ricik merupakan salah satu bagian dari instrumen gamelan yang termasuk keluarga balungan. Satu set gamelan biasanya terdiri dari 4 saron, dan semuanya memiliki versi pelog dan slendro. Bunyi Saron menghasilkan nada satu oktaf lebih tinggi daripada demung, dan mempunyai ukuran fisik yang lebih kecil.

Cara Memainkan
Untuk memainkan saron dibutuhkan alat penabuh. Alat penabuh tersebut berbentuk seperti palu dan terbuat dari kayu. Cara menabuhnya ada yang biasa sesuai nada, nada yang imbal, atau menabuh bergantian antara saron 1 dan saron 2. Cepat lambatnya dan keras lemahnya penabuhan tergantung pada komando dari kendang dan jenis gendhingnya. Pada gendhing Gangsaran yang menggambarkan kondisi peperangan misalnya, ricik ditabuh dengan keras dan cepat. Pada gendhing Gati yang bernuansa militer, ricik ditabuh lambat namun keras. Ketika mengiringi lagu ditabuh pelan,teknik ini disebut memathet.
Memathet (kata dasar: pathet = pencet) adalah teknik yang digunakan dalam memainkan saron. Caranya sebagai berikut :
1. Tangan kanan memukul wilahan / lembaran logam dengan tabuh.
2. Kemudian tangan kiri memencet wilahan yang dipukul sebelumnya untuk menghilangkan dengungan yang tersisa dari pemukulan nada sebelumnya.

Jenis
Berikut jenis-jenis saron :
Saron panerus
Saron barung
Demung



Sumber referensi

http://id.wikipedia.org/wiki/Saron diakses tanggal 24 november 2014

Sejarah alat musik gendang

Kamis, 01 Januari 2015


Alat musik gendhang, bisa juga disebut dengan kendang atau kendhang, merupakan salah satu alat musik yang biasa kita temui dalam musik gamelan jawa. Gendang yang baik terbuat dari kayu nangka atau cempedak, kemudian juga menggunakan kulit kerbau untuk bam atau permukaan bagian yang memancarkan bunyi ketukan bernada rendah, dan kulit kambing untuk chang atau permukaan luar yang memancarkan bunyi ketukan bernada tinggi.
Dalam sejarah alat musik gendang, alat musik gendang telah dikenal di Jawa sejak pertengahan abad ke-9 Masehi dengan banyak nama seperti padahi, pataha, murawaatau muraba, mrdangga, mrdala, muraja, panawa, kahala, damaru dan kendang. Penyebutan gendang dengan berbagai nama dalam sejarah alat musik gendang menunjukan adanya berbagai macam bentuk, ukuran juga bahan yang digunakan. Seperti gendang berukuran kecil yang ditemukan dalam arca yang dilukiskan sedang dipegang oleh Dewa, gendang tersebut dikenal Damaru. Dalam relief-relief candi dapat dilihat bukti keberadaan dan keanekaragaman gendang. Seperti di Candi Borobudur, dilukiskan bermacam-macam bentuk gendang, silndris langsing, bentuk tong asimetris, dan bentuk kerucut. Kemudian dalam sejarah alat musik gendang juga ditemukan dalam candi-candi yang lainnya seperti di Candi Siwa di Prambanan, Candi Tegawangi dan juga Candi Panataran.
Sejarah alat musik gendang berlanjut, Jaap Kunst menyatakan ada kesamaan antara sumber tertulis di Jawa Kuno dengan sumber tertulis di India. Dan hal ini membuktikan bahwa telah terjadi kontak budaya antara keduanya dalam bidang seni. Namun,dalam sejarah alat musik gendang, tidak dapat disimpulkan bahwa gendang Jawa mempunyai pengaruh dari India. Ini karena jenis alat musik membranofon ini diperkirakan sudah ada sebelum adanya kontak budaya dengan India. Seperti di zaman Perunggu telah dikenal adanya “Moko” dan “Nekara”, dan Nekara di zaman tersebut digunakan sebagai genderang.
Sejarah alat musik gendang berlanjut, ada jenis alat musik lain yang bunyinya berasal dari selaput kulit, seperti “Bedug” dan “Trebang”. Istilah bedug dapat dijumpai dalam kitab yang lebih muda yaitu “Kidung Malat”. Dalam Kakawin Hariwangsa, Ghatotkacasraya dan Kidung Harsawijaya, instrumen tersebut dikenal dengan istilah “Tipakan”. Tidak hanya itu, ada juga yang dikenal dengan istilah “Tabang-tabang” dalam kitab Ghatotkacasraya dan kitab Sumanasantaka, yang kemungkinan berkembang menjadi Tribang.
Dalam sejarah alat musik gendang, dilihat dari ukurangnya gendang dibagi menjadi beberapa jenis. Ada gendang atau kendang yang berukuran kecil disebut dengan “Ketipung”, lalu ada gendang atau kendang yang berukuran sedang disebut dengan kendang “Ciblon” atau “Kebar”. Sedangkan gendang atau kendang yang berukuran besar, yang merupakan pasangan dari ketipung, dinamakan dengan kendang gedhe atau biasa disebut dengan “kendang kalih”. Dalam sejarah alat musik gendang, terdapat gendang atau kendang yang khusus digunakan untuk pewayangan yaitu “Kendang Kosek”.
Untuk para pemain musik gamelan yang profesional, gendang atau kendang merupakan alat musik yang dimainkan dengan menggunakan naluri, sehingga apabila kita mendengarkan pemain gendang tersebut memainkan gendang, ada perbedaan nuansa bunyi, dan itu semua tergantung kepada orang yang memainkannya.


Aneka ragam permainan Jawa

Senin, 15 Desember 2014

Permainan Tradisional JAWA (Dolanan Jawa)

Salah satu permainan tradisional Jawa yang perlu kita ketahui dan kita lestarikan itu ada berbagai macam,dan sekarang saya coba menjelaskan jenis-jenis permainan tradisional di daerah saya,yaitu tepatnya di Desa Kutuk Kabupaten Kudus,diantaranya ini ada:

1.Sideponan

Permainan ini adalah salah satu permainan tradisional yang menurutku sangat rame dan mengasikkan.permainan ini dibutuhkan fisik yang lumayan kuat, suara lumayan lantang.dan lapang lumayan lebar.aturan mainnya peserta berjumlah 3 lebih,dimulai dari suit,batu gunting kertas (hom pimpa) untuk menentukan yang kalah.
Setelah didapati yang kalah dalam suit,maka tugas yang jadi(kalah) mengejar-ngejar pemain yang lain sampai ia kena.dan yang tidak jadi ia berlari-lari menghindari kejaran dari yang kalah,bukan hanya kejar-kejaran yang istimewa dari permainan ini jika peserta yang tidak jadi sudah kepepet dan hampir kena oleh  yang jadi maka ia akan berjongkok,nah untuk berdiri lagi ia harus minta bantuan pemain lain yang masih berdiri,dengan berkata dji,ro,lu atau 1,2,3 .Kalau pemain pada jongkok semua,nah tugas yang jadi atau yang kalah tadi tidak selesai sampai disini.Dia harus tetep berdiri dan mengawasi pemain lain supaya tidak sampai bergandengan tangan dan bisa berdiri lagi.kutukan atau yang jadi bisa selesai  dan digantikan pemain lain untuk posisinya jika:dia memegang seorang yang masih berdiri,dia memegang seorang pemain yang jongkok dan bersuara dan yang terakhir dia memegang dua pemain yang jongkoknya berdekatan dan berkata ‘’sidepo’’.Nah,itulah menurutku tentang permainan ini.

2.Sengkongan atau Tekongan

Permainan ini hampir sama dengan dengan petak umpet,tapi bedanya sengkongan ada kata sengkong,tekong jika ia menemukan yang mengumpat.Untuk aturan mainnya:
 Pertama, dibutuhkan pemain lebih dari dua orang (minimal dua orang), tanah lapang, dan tongkat atau senjata.Masing-masing pemain mempunyai satu tongkat. Selanjutnya, membuat lingkaran di tanah sebagai pusat permainan. Permainan dimulai dengan cara nuju atau nijar (masing-masing pemain melemparkan tongkat ke arah lingkaran dengan jarak tertentu), untuk menentukan siapa yang akan menjadi penjaga. Pemain yang tongkatnya jatuh dengan jarak paling jauh dari lingkaran, dialah yang menjadi penjaga.
 Kedua, saat sudah diperoleh siapa yang menjadi penjaga, sontak pemain lainnya langsung berlari mencari tempat persembunyian sembari penjaga menata tongkat secara vertikal (ditumpuk) tepat di tengah lingkaran. Setelah selesai merapikan tongkat yang berserakan, panjaga kemudian mencari pemain lainnya yang telah bersembunyi. Aturannya, bagi penjaga, ketika menemukan pemain yang bersembunyi, dia diwajibkan berkata  Tekong atau Sengkong dan diikuti nama pemain yang ditemukan. Tidak selesai sampai di situ, penjaga harus menuju lingkaran tempat tongkat ditumpuk dan disertai teriakan Bubar, tanda telah menyentuh lingkaran.
        Dan proses menuju lingkaran inilah yang menarik, penjaga harus berjibaku, saling sikut, dalam suatu perlombaan lari menuju lingkaran dengan pemain yang ditekong atau Sengkong. Sebab, apabila penjaga belum menyentuh lingkaran pemain mempunyai kesempatan untuk meruntuhkan kembali tatanan tongkat. Itu artinya penjaga harus menata ulang tongkat, dan pemain yang ditekong atau Sengkong”mempunyai kesempatan untuk bersembunyi lagi. Dan pemain lainnya pun boleh meruntuhkan tatanan tongkat untuk membebaskan pemain yang tertangkap sekaligus melonggarkan pekerjaan si penjaga. Untuk itu, penjaga harus mengamankan tatanan tongkat supaya tidak “dihancurkan pemain lainnya.
         Dalam suatu permainan, sudah lazim seorang pemain menjadi penjaga abadi. Hal ini disebabkan penjaga tidak dapat menemukan semua pemain. Untuk itulah, dibutuhkan kemampuan fisik yang fit, ulet dan lari yang cepat. Dan tidak jarang permainan digelar berkali-kali, dan berhari-hari dengan penjaga yang sama. permainan akan selesai ketika penjaga telah menemukan semua pemain atau si penjaga ngambek alias dikungkung.

3.Colod-colodan

Permainan ini merupakan suatu permainan lompat melompat diatas kaki,pesertanya minimal tiga,permainan dimulai dari koin tos(suit,hom pim pa).Misal yang main si A,B,C yang menang jadi pelompat yang kalah jadi halangan pelompat.Si A menang dia berarti jadi pelompat.B,C kalah maka dia harus jadi penghalang bagi si A yang mau lompat.Karena B,C kalah dia duduk sambil kedua kaki mereka diluruskan dan disatukan atau luruskan.Lompatan pertama kaki si B yang satu diangkat,si A terus melompat,kalau  A berhasil melompat maka kaki B yang satu diangkat dan kalau A masih berhasil dilanjutkan lompatan selanjutnya  sampai keempat kaki keangkat semua.Jika A gagal melompati berarti dia kalah  dan dilanjutkan pemain lain.
Nah,aturan permainannya seperti itu,memang permainan ini agak sedikit bahaya,dan dibutuhkan fisik kuat.Dan itulah salah satu permainan yang aku lakukan di waktu kecil bersama teman-teman dahulu.


Sumber:
-      Agus Widodo 19 tahun warga desa Kutuk Kecamatan Undaan Kudus

-      Zakariya Aminussoleh 14 tahun desa Kutuk Kecamatan Undaan Kudus

Tantang Aksara Jawa

Sabtu, 13 Desember 2014

Makna Aksara Jawa
   
Aksara Jawa sendiri itu mempunyai huruf berjumlah 20, dimana 20 huruf tersebut mempunyai suatu arti dan kesatuan yang perlu kita ketahui tentang makna, arti, tuturan yang nantinya bisa berarti dikehidupan kita bila kita mau mengamalkan warisan dari sesepuh kita, ke-20 huruf tersebut ialah:

a Ha: Hana hurip wening suci, artinya Hidup adalah kehendak dari yang maha suci.
n Na: Nur candra, Gaib candra, Warsitaning candra, artinya pengharapan manusia hanya selalu kesinar ilahi.
c Ca: Cipta wening, Cipta mandulu, Cipta dadi, artinya Satu arah dan tujuan pada yang maha tunggal.
r Ra: Rasa ingsun handulusih, artinya Rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani.
k Ka: Karsaningsun memayu hayuning bawana, artinya hasrat diserahkan untuk kesejahteraan alam.
f Da: Dumadining dzat kang tanpa winangenan, artinya Menerima hidup apa adanya.
t Ta: Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa, artinya Mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup.
s Sa: Sifat ingsun handulu sifatullah, artinya Membentuk kasih sayang seperti kasih sayang Tuhan.
w Wa: Wujud hana tan kena kinira, artinya Ilmu manusia hanya terbatas, namun implikasinya bisa tanpa batas.
l La: Lir handaya pasebat jati, artinya Mengalirkan hidup semata pada tuntunan ilahi.
p Pa: Papan kang tanpa kiblat, artinya Hakikat Allah yang ada disegala arah.
d Dha: Dhuwur wekasane endek wiwitane, artinya Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar.
j Ja: Jumbuhing kawula lan gusti, artinya Selalu berusaha menyatu memahami kehendaknya.
y Ya: Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi, artinya Yakin atas titah atau kodrat ilahi.
v Nya: Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki, artinya Memahami kodrat kehidupan.
m Ma: Madep mantep manembah mring ilahi, artinya yakin, mantep dalam menyembah ilahi.
g Ga: Guru sejati sing muruki, artinya Belajar pada guru nurani.
b Ba: Bayu sejati kang andalani, artinya Menyelaraskan diri pada gerak alam.
q Tha: Thukul saka niat, artinya Sesuatu harus dimulai, tumbuh dari niatan.
z Nga: Ngracut busananing manungsa, artinya Melepaskan egoisme pribadi manusia.


Daftar Pustaka


Margono, Aji. 2006. Primbon Japa Mantra. Surabaya. Apollo

Tentang Hari, Bulan di Jawa


Dina atau Hari

Senin
Soma
Selasa
Anggara
Rabu
Buda
Kamis
Respati
Jum’at
Sukra
Sabtu
Tumpuk
Minggu
Dite

Jeneng Pasaran

Paing
Pon
Wage
Kliwon
Legi






Jeneng Sasi atau Tahun

No.
Masehi
Hari
Hijriyah
Hari
Jawa
Hari
1
Januari
31
Muharram
30
Sura
30
2
Februari
28/29
Shafar
29
Sapar
29
3
Maret
31
Rabi’ulAwal
30
Mulud
30
4
April
30
Rabi’ilAkhir
29
BakdaMulud
29
5
Mei
31
JumadilAwal
30
JumadilAwal
30
6
Juni
30
JumadilAkhir
29
JumadilAkir
29
7
Juli
31
Rajab
30
Rejeb
30
8
Agustus
31
Sya’ban
29
Ruwah
29
9
September
30
Ramadhan
30
Pasa
30
10
Oktober
31
Syawal
29
Sawal
29
11
November
30
Dzulqaidah
30
Sela
30
12
Desember
31
Dzulhijjah
29/30
Besar
29/30



o   1 Minggu = 7 dina
o   1 Pasar = 5 dina
o   1 Wulan = 4 Minggu
o   1 Tahun = 52 Minggu = 12 Sasi
                = 354 hari/354 hari ----->Hijriyah
                = 365 hari/366 hari ----->Masehi

o   1 Windu = 8 tahun
 
Design by Pocket