Tentang Hari, Bulan di Jawa

Sabtu, 13 Desember 2014


Dina atau Hari

Senin
Soma
Selasa
Anggara
Rabu
Buda
Kamis
Respati
Jum’at
Sukra
Sabtu
Tumpuk
Minggu
Dite

Jeneng Pasaran

Paing
Pon
Wage
Kliwon
Legi






Jeneng Sasi atau Tahun

No.
Masehi
Hari
Hijriyah
Hari
Jawa
Hari
1
Januari
31
Muharram
30
Sura
30
2
Februari
28/29
Shafar
29
Sapar
29
3
Maret
31
Rabi’ulAwal
30
Mulud
30
4
April
30
Rabi’ilAkhir
29
BakdaMulud
29
5
Mei
31
JumadilAwal
30
JumadilAwal
30
6
Juni
30
JumadilAkhir
29
JumadilAkir
29
7
Juli
31
Rajab
30
Rejeb
30
8
Agustus
31
Sya’ban
29
Ruwah
29
9
September
30
Ramadhan
30
Pasa
30
10
Oktober
31
Syawal
29
Sawal
29
11
November
30
Dzulqaidah
30
Sela
30
12
Desember
31
Dzulhijjah
29/30
Besar
29/30



o   1 Minggu = 7 dina
o   1 Pasar = 5 dina
o   1 Wulan = 4 Minggu
o   1 Tahun = 52 Minggu = 12 Sasi
                = 354 hari/354 hari ----->Hijriyah
                = 365 hari/366 hari ----->Masehi

o   1 Windu = 8 tahun

Tokoh Wayang

Jumat, 12 Desember 2014

Sengkuni

Masa muda

Sengkuni merupakan putra ke dua dari empat bersaudara putra Prabu Suwala. Dia diberi nama kecil Trigantalpati oleh Prabu Suwala. Perawakannya kecil dan tampan semasa muda. Saudara paling kecilnya Dewi Antiwati menjadi istri Patih Udawa dari Dwarawati.
Suatu ketika ada sayembara untuk memperebutkan putri Mandura, Dewi Kuthitalibrata, yang terkenal akan kecantikannya. Suman ingin mengikuti sayembara tersebut dan berangkat ke Mandura bersama kakaknya Dewi Gandari.
Di tengah jalan mereka bertemu dengan Prabu Pandu Dewanata yang sedang dalam perjalanan pulang dari Madura karena dia sudah memenangkan sayembara tersebut. Lalu terjadilah pertarungan antara Raden Suman dan Pandu yang berakhir dengan kekalahan Trigantalpati. Selanjutnya Pandu mengajak Gendari dan Trigantalpati ke Kerjaan Astinapura dan berjanji akan menjadikan Gendari sebagai istrinya.
Namun, Gendari ternyata tidak menjadi istri dari Pandu. Dia menjadi istri dari Destarastra yang merupakan kakak dari Pandu. Timbul dendam dalam diri Gendari, bahkan Trigantalpati pun ikut memendam dendam kepada Pandu. Ditambah dia juga memendam hati kepada Dewi Kunthi.
Semenjak itu, dia selalu bersama-sama dengan Gendari dan Destarastra. Dialah yang mengasuh dan membesarkan putra-putra Kurawa. Kurupati lebih dekat kepada Trigantalpati dari pada sang ayah Destarastra. Kedekatan dengan Kurupati juga memberikan pengaruh yang kuat terhadap Kurawa yang lain. Karena, adik-adik Kurupati sangat menghormati sang sulung. Kharisma sang putra pertama begitu dihormati oleh saudara-saudaranya yang lain.
Dendam dalam diri Trigantalpati terhadap Pandu dan keturunannya benar-benar membuat dia menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai. Sedikit demi sedikit dia mulai melancarkan rencana untuk menjadi penguasa Astina. Dia memulai dengan ingin menjadi Patih Kerajaan Astina Pura.
Rencana pertama adalah dengan menyingkirkan Gandamana, Patih Prabu Pandu Sang Raja Astina Pura. Pertama dia provokasi orang-orang Pringgodani untuk mempermasalahkan perbatasan Astina dan Pringgodani. Kedua negara awalnya bertetangga baik dan rukun-rukun saja. Tahap kedua, dia provokasi Gandamana untuk memimpin prajurit melawan Pringgodani. Karena keluguan dan kejujuran Gandamana, dia pun terprovokasi omongan Trigantalpati. Padahal awalnya Gandamana mengusulkan penyelesaian lewat jalan damai. Karena, Gandamana tidak mati dan memperoleh kemenangan, maka dilanjut kerencana ketiga, yaitu dengan menjebaknya dalam perjalanan pulang. Gandamana dijebak ke dalam sebuah lubang yang sudah disiapkan dan dihujani dengan tombak. Lalu dikubur di dalam lobang tersebut.
Ternyata Gandamana masih dalam keadaan sehat. Jebakan Trigantalpati untuk membunuh Gandamana kembali gagal. Jebakan  itu gagal karena kesaktian ilmu kanuragan yang dimiliki Gandamana. Gandamana pulang ke Astina lalu menghajar Trigantalpati sampai wajahnya menjadi buruk rupa. Karena hal inilah muncul nama Sengkuni. Yang berati karena bunyi (ucapan).
Selanjutnya cerita mengatakan bahwa waktu itu Sengkuni meminta Pandu untuk memilih dia atau Gandamana. Dan Gandamana memilih sendiri untuk pulang ke Pancala dan mengabdi kepada sang kakak Prabu Drupada. Akhirnya walaupun Gandamana tidak mati terkena tipu dayanya, Sengkuni tetap menjadi patih Astina.
“Kisah kudeta Sengkuni untuk menjadi Patih kerajaan Astina ini lah yang nampaknya mengilhami para pengamat politik, untuk meyebut perisitwa di tubuh PD beberapa waktu lalu sebagai kudeta Sengkuni. Walau pun gagal tetapi Anas tetap pergi dari kursi Ketum PD.”

Patih Sengkuni

Setelah menjadi patih, keinginannya untuk senantiasa membuat permusuhan keluarga Pandu dan Destarastra semakin terbuka dan mudah. Apalagi dengan meninggalnya ayah para Pandawa, sang Prabu Pandu Dewanata. Dan diangkatnya Prabu Destarastra menjadi Raja Astina. Apalagi memang Destarastra merupakan orang yang lemah.
Tahap awal dia selalu memisahkan anak-anak Pandawa dan Kurawa. Memisahkan ketika mereka sedang bermain apapun atau pun ketika sedang dilatih oleh guru mereka Sang Maharesi Bisma. Sengkuni mengajarkan bahwa Kurawa itu Kurawa dan Pandawa itu Pandawa.
“Sangkuni sebenarnya tidak begitu piawai dalam olah kanuragan. Tetapi seluruh tubuhnya kebal terhadap berbagai jenis senjata karena dengan kelicikannya dia berhasil mendapatkan khasiat dari minyak Tala milik Prabu Pandu yang sudah meninggal. Peristiwa minyak tala ini juga yang membawa keluarga Pandawa dan Kurawa bertemu dengan Bambang Kumbayana. Yang pada akhirnya menjadi guru besar kedua keluarga tersebut bergelar Pandhita Durna.”
Langkah selanjutnya untuk menyingkirkan Pandawa adalah dengan membunuh mereka lewat peristiwa pembakaran ‘Balai Segalagala’. Peristiwa ini dimulai ketika Prabu Destarastra berniat mengembalikan tahta Astina kepada Pandawa. Dengan alasan merayakan dengan mengadakan pesta, dia merencanakan penjebakan ini. Startegi dengan rapi mereka jalankan, tetapi Pandawa dan Dewi Kunthi berhasil selamat setelah dibantu oleh hewan garangan putih yang menunjukkan adanya jalan air di bawah balai tersebut yang dahulu pernah dibuat oleh Prabu Sentanu, ayah Bisma, Raja Astina sebelum kakek Pandawa-Kurawa. Peristiwa ini membawa Bima bertemu dengan istri pertamannya Dewi Nagagini, putri Bathara Antaboga. Dewa yang juga menyelamatkan Pandawa dengan menyamar sebagai garangan putih.
Dalam pelarian itu juga terjadi peristiwa ‘alap-alapan Dewi Drupadi’ yang berhasil dimenangkan oleh Puntadewa lewat bantuan Arjuna dan Bima. Terjadi juga peristiwa pertemuan Pandawa dengan Prabu Arimba, Raja Pringgadani, berakhir dengan kematian Prabu Arimba oleh Bima dan diperistrinya Arimbi, adik Arimba, oleh Bima. Serta peristiwa ‘Kangsa adu jago’ dimana Arjuna dan Bima bertemu sepupu mereka Kakrasana, Narayana, dan Dewi Laraireng di Kerajaan Mandura.
Rencana ‘balai sigalagala’ ini berakhir dengan kegagalan pembunuhan terhadap Pandawa, tetapi Sengkuni semakin berkuasa di Astina setelah keberhasilan Duryudana membujuk Destarastra untuk mengangkat dirinya menjadi Raja Astina Pura. Dan kegagalan pembunuhan Pandawa baru diketahui setelah dua tahun peristiwa  ‘balai sigalagala’ terjadi, Pandawa kembali ke Astina Pura bersama ibu mereka dan Drupadi.
Gagal dengan rencana ini, lalu dengan dalih untuk menghindari percekcokan maka Pandawa diberikan sebuah wilayah yang masih hutan belantara. Dalam cerita pewayangan kita kenal cerita ini dengan lakon ‘babat alas amer’. Pada akhirnya berdirilah kerajaan yang diberi nama Kerajaan Amarta dengan raja pertamanya Prabu Puntadewa. Rencana ini juga tak sepi dari konspirasi, karena alas amer merupakan hutan yang dipenuhi hewan buas dan terkenal angker. Selain rumah bagi hewan buas juga merupakan sebuah kerajaan jin. Tetapi, sekali lagi rencana gagal.
Ternyata tetap ada ketakutan dalam diri Duryudana, dia tetap tidak terima dengan apa yang diperoleh Pandawa. Bisa kita andaikan, walau tidak tertulis, Kerajaan Amarta yang dibangun oleh Pandawa ini semakin maju pesat dalam berbagai bidang dan bisa menggeser peran sebagai Kerajaan yang sudah mapan sebelumnya yaitu Kerajaan Astina.
Maka Sengkuni pun beraksi dengan mengusulkan kepada Duryudana untuk mengundang Pandawa main dadu. Dalam budaya waktu itu, undangan main dadu dari seorang raja kepada raja lain merupakan suatu kehormatan. Selain menyingkirkan Pandawa, Sengkuni juga ingin Kurawa berkuasa penuh atas Amarta.
Dengan kelicikan Sengkuni, dia mengakali dadunya sehingga bisa diatur untuk kemenangan Kurawa. Dalam lakon ‘Pandawa Dadu’ ini jatuhlah Amarta kepada Duryudana. Pandawa harus berada dalam pengasingan selama 12 tahun, serta 1 tahun bersembunyi untuk membayar taruhannya. Jika pada tahun ke-13 mereka ketahuan maka mereka harus mengulang lagi untuk 12 tahun begitu seterusnya.
“Dalam lakon-lakon penting, secara garis besar beginilah urutan pentingnya. Karena lakon penting setelah ini adalah Perang Bharatayudha. Tetapi ada begitu banyak lakon-lakon yang lain yang menghiasi kisah pewayangan yang melengkapi cerita-cerita utama. “
“Dalam lakon-lakon itu akan kita dapati bahwa Patih Sengkuni merupakan otak dari setiap tidakan buruk yang dilakukan Kurawa kepada Pandawa. Semisal ketika dia membujuk Pandhita Durna untuk membuat reka daya guna melenyapkan Bima. Kembali reda daya ini gagal, malahan Bima bisa bertemu dengan Dewa Ruci dan mendapatkan pencerahan dalam hidup.”
Sebenarnya upaya perdamaian Pandawa dengan Kurawa sudah diusahakan sejumlah pihak. Namun upaya-upaya itu selalu gagal terbentur kesombongan Duryudana ditambah provokasi Sengkuni yang ingin menguasai secara penuh wilayah Astina Pura. Ingat Amarta sebenarnya wilayah Astina yang dikembangkan oleh Pandawa menjadi Kerajaan maju.
“Dalam cerita asli, sebenarnya bagi Pandawa wilayah Amarta atau Indraprasta sudah cukup dan tidak perlu untuk menguasai Astina secara penuh. Tetapi, dalam cerita pewayangan Jawa mungkin ada perbedaan pendapat antar dalang. Karena, nampaknya saat ini tidak ada cerita yang benar-benar mengikuti alur sehingga ada beberapa perbedaan masalah ini. Ada yang mengatakan, Pandawa tetap meminta haknya. Namun ada pula yang mengatakan, cukup diberi sedikti wilayah Astina.”
Kesombongan Kurawa ini dikarenakan secara head to head Kurawa sudah unggul di medan pertempuran. Karena mereka punya Adipati Karna, orang paling sakti di dunia wayang. Mereka juga punya Resi Bhisma dan Pandhita Durna yang keduanya merupakan guru besar Pandawa dan Kurawa. Ada juga Prabu Salya, Jayadrata, dan raja-raja lain. Ditamabah lagi mereka ada 100 orang yang tentu saja mereka mempunyai kesaktian juga. Apalagi Duryudana dan Sengkuni sama-sama kebal berbagai macam senjata. Sekali lagi secara kekuatan fisik sebenarnya Kurawa unggul.
Tetapi, kekalahan Kurawa dalam perang Bharatayuda dikarenakan tidak adanya persatuan di antara mereka dan tidak ada ahli startegi perang yang mumpuni. Salya dengan Karna saling bermusuhan padahal mereka ini mertua dan menantu, hal ini juga yang menyebabkan Karna kalah melawan Arjuna. Dan beberapa permusuhan lain dalam tubuh Kurawa. Kematian senopati-senopati perang pihak Kurawa terjadi karena kecerdikan Kresna membuat reka daya dalam perang sehingga para senopati Kurawa gugur satu per satu. Dan orang seperti Kresna tidak ada dalam tubuh kubu Kurawa.
“Dalam peperangan dunia nyata memang banyak akan kita dapati kekuatan secara fisik tidak menjamin sebuah kemenangan. Kemajuan peradaban pun juga tidak menjamin secara penuh sebuah kemenangan dalam perang. Banyak kemenangan terjadi karena strategi yang digunakan lebih unggul, tepat guna, dan berhasil guna untuk memperoleh kemenangan dalam perang. “

Kematian Sengkuni

Sengkuni meninggal di medan laga ketika terjadi perang Bharatayudha meletus. Dalam cerita asli, Sengkuni mati di tangan Sadewa. Tetapi dalam pewayangan dia mati di tangan Bima. Karena khasiat minyak tala, dia menjadi sulit untuk dikalahkan. Sampai-sampai Bima putus asa dan kehabisan akal, sampai dia mendapat nasehat dari Kresna dan Semar untuk menyerang bagian mulut dan duburnya, karena dua bagian itu yang tidak mendapat khasiat dari minyak tala. Dan akhirnya Sengkuni dapat dikalahkan, walaupun belum mati karena khasiat minyak tala, dalam keadaan parah karena mulutnya sobek dan tubuhnya remuk.
Dia mati setelah Duryudana dikalahkan Bima dan dalam keadaan sekarat dan luka parah, Duryudana, mengatakan bahwa dia hanya mau mati bersama istrinya, Dewi Banowati, karena istrinya lah pasangan hidup dan matinya. Atas saran Kresna, Sengkuni yang belum mati didekatkan ke Duryudana. Duryudana tidak tahu karena matanya sudah buta akibat pertarungannya dan Sengkuni juga sudah tidak bisa bicara. Duryudana dan Sengkuni mati bersama setelah Duryudana menggigit leher Sengkuni. Dan memang benar Duryudana mati bersama pasangan sehidup sematinya, yaitu si Sengkuni.
Setelah mati, Bima mengambil kulit bagian dada Sengkuni untuk digunakan sang ibu Dewi Kunthi sebagai kemben. Hal ini terjadi karena Sengkuni pernah mencoba untuk memperkosa Dewi Kunthi sampai kebayanya terlepas tetapi dapat diselamatkan Bima. Sampai-sampai Kuthi bersumpah tidak akan lagi menggunakan kebaya sebelum menggunakan kulit Sengkuni sebagai kebaya.


Daftar Pustaka

Nanda MH,(2013). Wayang Dan Tokoh. Yogyakarta.Penerbit: Bintang Cemerlang


Alat Musik Kenong

Rabu, 10 Desember 2014


Kenong adalah alat musik tradisional Jawa yang sangat unik. Keunikan kenong terletak pada bentuknya yang khas dan suara yang dihasilkan.Kenong merupakan unsur yang penting dalam suatu permainan gamelan.

   Alat Musik KENONG alat musik tradisional Jawa yang sangat unik Keunikan kenong terletak pada bentuk yang khas dan suara yang dihasilkan. Kenong merupakan unsur penting dalam permainan gamelan.
Kenong termasuk dalam golongan pencon, yang termasuk di dalamnya juga gong, bonang, dan kethuk. KENONG unsur instrumen pencon gamelan yang paling gemuk, dibandingkan kempul dan gong yang walaupun besar namun berbentuk pipih.
 Kenong disusun pada pangkon berupa kayu keras yang dialasi dengan tali, sehingga pada saat dipukul kenong tidak akan bergoyang ke samping namun dapat bergoyang ke atas bawah, sehingga menghasilkan suara.
      Bentuk kenong yang besar menghasilkan suara rendah namun nyaring dengan timber yang khas Dalam gamelan, suara kenong mengisi sela-sela antara kempul. Dalam memberi batasan struktur suatu gendhing, kenong adalah instrumen kedua yang paling penting setelah gong. Kenong membagi gongan menjadi dua atau empat kalimat.

Di samping berfungsi menggaris-bawahi struktur gendhing, nada-nada kenong juga berhubungan dengan lagu gendhing memainkan nada yang sama dengan nada balungan; boleh mendahului nada balungan berikutnya untuk menuntun alun lagu gendhing dapat memainkan nada berjarak satu kempyung dengan nada balungan untuk mendukung rasa pathet. Pada kenongan bergaya cepat, dalam ayak-ayakan, srepegan, dan sampak, tabuhan kenong menuntun alur lagu gendhing-gendhing tersebut.


Cerita Rakyat

Rabu, 03 Desember 2014


Prabu Anglingdarma adalah nama seorang tokoh legenda dalam tradisi Jawa, yang dianggap sebagai titisan Batara Wisnu. Salah satu keistimewaan tokoh ini adalah kemampuannya untuk mengetahui bahasa segala jenis binatang. Selain itu, ia juga disebut sebagai keturunan Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata.
Anglingdarma merupakan keturunan ketujuh dari Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Hal ini dapat dimaklumi karena menurut tradisi Jawa, kisah Mahabharata dianggap benar-benar terjadi di Pulau Jawa. Dikisahkan bahwa, Arjuna berputra Abimanyu. Abimanyu berputra Parikesit. Parikesit berputra Yudayana. Yudayana berputra Gendrayana. Gendrayana berputra Jayabaya. Jayabaya memiliki putri bernama Pramesti, dan dari rahim Pramesti inilah lahir seorang putra bernama Prabu Anglingdarma.
Semenjak Yudayana putra Parikesit naik takhta, nama kerajaan diganti dari Hastina menjadi Yawastina. Yudayana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada Gendrayana. Pada suatu hari Gendrayana menghukum adiknya yang bernama Sudarsana karena kesalahpahaman. Batara Narada turun dari kahyangan sebagai utusan dewata untuk mengadili Gendrayana. Sebagai hukuman, Gendrayana dibuang ke hutan sedangkan Sudarsana dijadikan raja baru oleh Narada. Gendrayana membangun kerajaan baru bernama Mamenang. Ia kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Jayabaya. Sementara itu, Sudarsana digantikan putranya yang bernama Sariwahana.
Sariwahana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada putranya yang bernama Astradarma. Antara Yawastina dan Mamenang terlibat perang saudara berlarut-larut. Atas usaha pertapa kera putih bernama Hanoman yang sudah berusia ratusan tahun, kedua negeri pun berdamai, yaitu melalui perkawinan Astradarma dengan Pramesti, putri Jayabaya.
Pada suatu hari Pramesti mimpi bertemu Batara Wisnu yang berkata akan lahir ke dunia melalui rahimnya. Ketika bangun tiba-tiba perutnya telah mengandung. Astradarma marah menuduh Pramesti telah berselingkuh. Ia pun mengusir istrinya itu pulang ke Mamenang. Jayabaya marah melihat keadaan Pramesti yang terlunta-lunta. Ia pun mengutuk negeri Yawastina tenggelam oleh banjir lumpur. Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Astradarma pun tewas bersama
lenyapnya istana Yawastina. Setelah kematian suaminya, Pramesti melahirkan seorang putra yang diberi nama Anglingdarma.
Kelahiran bayi titisan Wisnu tersebut bersamaan dengan
wafatnya Jayabaya yang mencapai moksa. Tahta Mamenang kemudian diwarisi oleh Jaya Amijaya, saudara Pramesti. Setelah dewasa, Anglingdarma membawa ibunya pindah ke sebuah negeri yang dibangunnya, bernama Malawapati. Di sana ia memerintah dengan bergelar Prabu Anglingdarma, atau Prabu Ajidarma. Anglingdarma sangat gemar berburu. Pada suatu hari ia
menolong seorang gadis bernama Setyawati yang dikejar harimau. Setyawati lalu diantarkannya pulang ke rumah ayahnya, seorang pertapa bernama Resi Maniksutra. Tidak hanya itu, Anglingdarma juga melamar Setyawati sebagai istrinya.  Kakak Setyawati yang bernama Batikmadrim telah bersumpah barang siapa ingin menikahi adiknya harus dapat mengalahkannya. Maka terjadilah pertandingan yang dimenangkan oleh Anglingdarma. Sejak saat itu, Setyawati menjadi permaisuri Anglingdarma sedangkan Batikmadrim diangkat sebagai patih di Kerajaan Malawapati.
Pada suatu hari ketika sedang berburu, Anglingdarma memergoki istri gurunya yang bernama Nagagini sedang berselingkuh dengan seekor ular tampar. Anglingdarma pun membunuh ular jantan sedangkan Nagagini pulang dalam keadaan terluka. Nagagini kemudian menyusun laporan palsu kepada suaminya, yaitu Nagaraja supaya membalas dendam kepada Anglingdarma. Nagaraja pun menyusup ke dalam istana Malawapati dan menyaksikan Anglingdarma sedang membicarakan perselingkuhan Nagagini kepada Setyawati. Nagaraja pun sadar bahwa istrinya yang salah. Ia pun muncul dan meminta maaf kepada Anglingdarma. Nagaraja mengaku ingin mencapai moksa. Ia kemudian mewariskan ilmu kesaktiannya berupa Aji Gineng kepada Anglingdarma. Ilmu tersebut harus dijaga dengan baik dan penuh rahasia. Setelah mewariskan ilmu tersebut Nagaraja pun wafat.
Sejak mewarisi ilmu baru, Anglingdarma menjadi paham bahasa binatang. Pernah ia tertawa menyaksikan percakapan sepasang cicak. Hal itu membuat Setyawati tersinggung. Anglingdarma menolak berterus terang karena terlanjur berjanji akan merahasiakan Aji Gineng, membuat Setyawati bertambah marah. Setyawati pun memilih bunuh diri dalam api karena merasa dirinya tidak dihargai lagi. Anglingdarma berjanji lebih baik menemani Setyawati mati, daripada harus membocorkan rahsia ilmunya. Ketika upacara pembakaran diri digelar, Anglingdarma sempat mendengar percakapan sepasang kambing. Dar percakapan itu Anglingdarma sadar kalau keputusannya menemani Setyawati mati adalah keputusan emosional yang justru merugikan rakyat banyak. Maka, ketika Setyawati terjun ke dalam kobaran api, Anglingdarma tidak menyertainya.
Perbuatan Anglingdarma yang mengingkari janji sehidup semati dengan Setyawati membuat dirinya harus menjalani hukuman buang sampai batas waktu tertentu sebagai penebus dosa. Kerajaan Malawapatipun dititipkannya kepada Batikmadrim.  Dalam perjalanannya, Anglingdarma bertemu tiga orang putri bernama Widata, Widati, dan Widaningsih. Ketiganya jatuh cinta kepada Anglingdarma dan menahannya untuk tidak pergi. Anglingdarma menurut sekaligus curiga karena ketiga putri tersebut suka pergi malam hari secara diam-diam. Anglingdarma menyamar sebagai burung gagak untuk menyelidiki kegiatan rahasia ketiga putri tersebut. Ternyata setiap malam ketiganya berpesta makan daging manusia. Anglingdarma pun berselisih dengan mereka mengenai hal itu. Akhirnya ketiga putri mengutuknya menjadi seekor belibis putih. Belibis putih tersebut terbang sampai ke wilayah Kerajaan Bojanagara.
Di sana ia dipelihara seorang pemuda desa bernama Jaka Geduk. Pada saat itu Darmawangsa raja Bojanagara sedang bingung menghadapi pengadilan di mana seorang wanita bernama Bermani mendapati suaminya yang bernama Bermana berjumlah dua orang. Atas petunjuk belibis putih, Jaka Geduk berhasil membongkar Bermana palsu kembali ke wujud aslinya, yaitu Jin Wiratsangka. Atas keberhasilannya itu, Jaka Geduk diangkat sebagai hakim negara, sedangkan belibis putih diminta sebagai peliharaan Ambarawati, putri Darmawangsa. Anglingdarma yang telah berwujud belibis putih bisa berubah ke wujud manusia pada malam hari saja.  Setiap malam ia menemui Ambarawati dalam wujud manusia. Mereka akhirnya menikah tanpa izin orang tua. Dari perkawinan itu Ambarawatipun mengandung. Darmawangsa heran dan bingung mendapati putrinya mengandung tanpa suami. Kebetulan saat itu muncul seorang pertapa bernama Resi Yogiswara yang mengaku siap menemukan ayah dari janin yang dikandung Ambarawati. 
Yogiswara kemudian menyerang belibis putih peliharaan Ambarawati. Setelah melalui pertarungan seru, belibis putih kembali ke wujud Anglingdarma, sedangkan Yogiswara berubah menjadi Batikmadrim. Kedatangan Batikmadrim adalah untuk menjemput Anglingdarma yang sudah habis masa hukumannya. Anglingdarma kemudian membawa Ambarawati pindah ke Malawapati. Dari perkawinan kedua itu lahir seorang putra bernama Anglingkusuma, yang setelah dewasa menggantikan kakeknya menjadi raja di Kerajaan Bojanagara, ia pun mempunyai musuh yang bernama Durgandini dan Sudawirat. Pada suatu saat kerajaan Anglingdarma berjaya dan mampu menaklukan musuh-musuhnya, dan saat itulah Sudawirat terbuka hatinya untuk mengabdi kepada Kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Anglingdarma.

Kisah ini mempunyai nilai-nilai luhur kehidupan bahwa setiap perbuatan, ucapan, pikiran kita hendaklah berhati-hati, yang diucapkan bisa menjadi kenyataan, yang dipikir bisa menjadi kenyataan, yang diperbuat bisa menjadi kebaikan dan keburukan bagi kita. Kita dipahami bahwa para leluhur telah (membimbing dan mengarahkan) anak turunnya agar memperoleh kemuliaan hidup. Di sisi lain,anak-turunnya melakukan berbagai cara untuk mewujudkan rasa berbakti sebagai wujud balas budinya kepada orang-orang yang telah menyebabkan kelahirannya di muka bumi. Sadar atau tidak warisan para leluhur kita & leluhur nusantara berupa tanah perdikan (kemerdekaan), ilmu, ketentraman, kebahagiaan bahkan harta benda masih bisa kita rasakan hingga kini.

Ramalan Jodoh


Petung panca suda yaitu ramalan yang menunjukkan baik dan buruknya perjodohan antara laki-laki dan perempuan. Petung ini diambil dari neptu hari 7(tujuh) dan pasaran 5(lima).

Neptu Dina                                                                            
Senen   : 4                                                                              
Selasa   : 3                                                                              
Rebu     : 7                                                                             
Kemis    : 8                                                                               
Jum’at   : 6                        
Sabtu    : 9
Minggu  : 5

Neptu Pasaran

Pahing :9
Pon     :7
Wage  :4
Kliwon :8
Legi    :5

Hasil Ramalan Dari Petungan Panca Suda
Sisa 1: Wasesa Segara
            Watak: Jembar budine (ikhlas), sugih pangapurane (pemaaf), amot ujar lan becik (selalu berkata baik dan benar), gedhi wibawane (berwibawa).
Sisa 2: Tunggak Semi
            Watak: rejeki tansah kecukupan, senajan dipapras meksa isih bisa tukul
Sisa 3: Satriya Wibawa
            Watak: Oleh kabegjan, kamulyan lan kaluhuran.
Sisa 4: Sumur Sinaba
Watak: Kedunungan kepinteran, kawicaksanaan, panggonan kanggo pitakonan lan   pitulungan.
Sisa 5: Satria Wirang
Watak: Nandang Susah lan rekasa, kewirangan. Syarat kanggo sarana tulake ngetokake    getih, upamane belih pitik utawa wedus.
Sisa 6: Bumi Kapetak
Watak: Peteng ing ati nanging taberi ing panggawean, kuat nyandang lara lapa, nanging  resikan. Sayrat srana tulake: Mendhem lemah.
Sisa 7: Lebu Katiup Angin
Watak: nandhang papa citraka, tansah kapesan, rekasa golek sandhang pangan, sabarang karepe, angel kaleksanan, asring pindhah omah. Syarat kanggo srana tulake: Ngabul - abul bledhug, utawa awu.

Cara Menghitung
Neptu hari dan pasaran kelahiran laki-laki ditambahkan dengan neptu hari dan pasaran kelahiran si perempuan. Seseudah di jumlahkan terus dikurangi dengan 10, sisanya atau turahannya tidak boleh lebih dari 7. Jika sisanya lebih dari 7 jumlah neptu tadi harus dikurangi dengan 7.
Contoh:
Paat lahir Kemis Pahing, neptunya berarti (8 + 9)
Tini lahir Jum’at Kliwon, neptunya (6 + 8)
Jumlah neptunya:
                             (8 + 9) + (6 + 8) = 17 + 14 = 31
Jika dikurang 10 (sepuluh) = 31 – (10 x 3) -------à Sisa: 1 (satu)
Petung ini jatuh 1 (satu) yaitu: Wasesa Segara

Contoh lainnya:
Joko lahir Rabu Pon, neptunya (7 + 7)
Siti lahir Sabtu Legi, neptunya (9 + 5)

Jumlah neptunya:
                            (7 + 7) + (9 + 5) = 14 + 14 = 28
Jika dikurangi 10 (sepuluh) = 28 – (10 x 2) sisanya 8
Seharusnya sisanya tidak boleh lebih dari 7 (tujuh) oleh karena itu jumlah neptu tadi harus dikurangi dengan 7 (tujuh) = 28 – (7 x 3) ------à Sisa 7 (tujuh)
Petung ini jatuh 7 yaitu: Lebu Katiup Angin.

Patung Panca Suda diatas itu adalah peninggalan para leluhur, yang sampai sekarang masih sering digunakan. Semua itu tadi hanya sarana untuk mewujudkan keluarga yang ayem tentrem, mulya dan berwibawa. Yang semestinya rejeki, jodoh dan mati manusia itu sudah menjadi takdir dari yang maha kuasa. Tetapi manusia juga wajib berdo’a dan berikhtiar untuk mewujudkan keinginnya selanjutnya semua takdir hidup manusia didunia diserahkan pada Tuhan yang maha kuasa.



Sumber: Suryo Subroto, Mumpuni Basa Jawi,CV Pustaka Agung Harapan Jaya, Surabaya 1995

Tokoh Wayang


Dalam pewayangan Jawa ibu Gatotkaca lebih dikenal dengan sebutan Arimbi. Arimbi bukan sekedar penghuni hutan biasa, melainkan putri dari kerajaan Pringgadani, negeri bangsa raksasa. Waktu dilahirkan Gatotkaca berupa raksasa, karena sangat sakti maka tidak ada senjata yang dapat memotong tali pusarnya. Kemudian tali pusar itu hanya dapat dipotong dengan senjata Karna yang bernama Kunta, tetapi sarung senjata itu masuk kedalam perut Gatutkaca, dan menambah lagi kesaktiannya.
Dengan kehendak dewa-dewa, bayi Gatotkaca itu dimasak seperti bubur dan diisi dengan segala kesaktian, karena itu Gatotokaca berurat kawat, bertulang besi, berdarah gala-gala dan dapat terbang diawan dan duduk diatas awan yang melintang. Kecepatan Gatotkaca pada waktu terbang diawan bagai kilat dan liar bagai halilintar. Kesaktiannya dalam perang, dapat mencabut leher musuh dan digunakan pada saat yang penting. Gatotokaca diangkat menjadi raja di Pringgadani dan iapun disebut sebagai ksatria di Pringgadani, karena pemerintahan Negara dikuasai oleh keturunan dari pihak perempuan.
Kecepatan terbang Gatotkaca jauh diatas rata-rata kecepatan terbang ksatria pada umumnya. Kulit dan badannya sekeras baja, tak ada senjata tajam yang mampu melukai tubuhnya. Tapi pada saat yang sama, bangsa dewa juga menciptakan senjata konta wijayadanu, satu-satu senjata yang bisa melukai Gatotkaca, dan hanya bisa digunakan sekali pakai. Gatotkaca adalah patriot. Dia begitu patuh pada negeri, keluarga dan pada kebenaran yang dipegangnya. Dia juga tidak mau berkompromi dengan sitija atas batas wilayah negerinya, Pringgadani dengan wilayah Trajutrisna.
Dia sangat disiplin dalam menjaga wilayah kedaulatan negeri dan keluarganya,  dari wilayah negeri paling utara perbatasan Pringgadani, keselatan wilayah Amarta, sampai wilayah Dwarawati paling selatan. Dia juga membantu Arjuna menggagalkan penyerbuan prabu Niwatakawaca, dari negeri Imamantaka, kekahyangan Jonggring Saloka. Dia hanya diam, walaupun semua bangsa dewa tahu bahwa yang berjasa atas penggagalan penyerbuan itu hanya Arjuna seorang.  Bangsa dewa menganggap biasa saja peran Gatotkaca atas peristiwa itu, karena menurut mereka, hanya demikianlah Gatotkaca dilahirkan.
Kisah kelahiran Gatotkaca dikisahkan secara tersendiri dalam pewayangan Jawa. Namanya sewaktu masih bayi adalah Jabang Tetuka. Sampai usia satu tahun tali pusarnya belum bisa dipotong walau sudah menggunakan senjata apapun.
Arjuna pergi bertapa untuk mendapat petunjuk dewa demi menolong nasib keponakannya. Namun pada saat yang sama Karna panglimakerajaan Hastina juga sedang bertapa mencari senjata pusaka. Karena wajah keduanya mirip, Bathara Narada selaku utusan kahyangan memberi senjata Kontawijaya kepada Karna, bukan kepada Arjuna. Setelah menyadari kesalahannya, Narada menemui Arjuna yang sebenarnya. Arjuna lalu mengejar Karna untuk merebut senjata Kontawijaya. Pertarunganpun terjadi, Karna berhasil meloloskan diri membawa senjata Kontawijaya, sedangkan Arjuna hanya berhasil merebut sarung pembungkus pusaka tersebut. Namun sarung pusaka konta tersebut dari kayu mustaba yang ternyata bisa digunakan untuk memotong tali pusar Tetuka.
Akan tetapi keajaiban terjadi, kayu mustaba musnah dan bersatu dalam perut Tetuka. Krisna yang ikut menyaksikannya berpendapat bahwa pengaruh kayu mustaba akan menambah kekuatan bayi Tetuka. Namun ia juga meramalkan bahwa kelak Tetuka akan tewas ditangan pemilik senjata Kontawijaya. Tetuka kemudian dipinjam Narada untuk dibawa kekahyangan yang saat itu sedang diserang musuh bernama patih Sekipu dari kerajaan Trabelasuket. Ia diutus rajanya bernama Kalapracona untuk melamar bidadari bernama Batari Supraba. Bayi Tetuka dihadapkan sebagai lawan sekipu. Anehnya, semakin dihajar bukannya mati, Tetuka justru semakin kuat.
Karena malu, Sekipu mengembalikan Tetuka kepada Narada untuk dibesarkan saat itu juga. Narada kemudian menceburkan tubuh Tetuka kedalam kawah Candradimuka, digunung jamurdipa. Para dewa kemudian melempar berbagai jenis senjata pusaka kedalam kawah. Beberapa saat kemudian, Tetuka muncul kepermukaan sebagai seorang laki-laki dewasa. Segala jenis pusaka para dewa telah melebur dan bersatu kedalam dirinya. Tetuka kemudian bertarung melawan Sekipu dan berhasil membunuhnya dengan menggunakan gigitan taring. Krisna dan para Pandawa saat itu datang menyusul kekahyangan. Kresna kemudian memotong taring Tetuka  dan menyuruhnya dan menyuruhnya berhenti menggunakan sifat kaum raksasa.
Bathara Guru, raja kahyangan menghadiahkan seperangkat pakaian pusaka, yaitu Caping Basunanda, Kotang Antrakusuma dan Terompah Padakacama untuk dipakai Tetuka, yang sejak saat itu diganti namanya menadi Gatotkaca. Dengan menggunakan pakaian pusaka tersebut, Gatotkaca mampu terbang secepat kilat menuju kerajaan Trabelasuket dan membunuh Kalapracona.
Dalam versi pewayangan Jawa, Gatotkaca menikah dengan sepupunya, yaitu Pregiwa, putri Arjuna. Ia berhasil menikahi Pregiwa melalui perjuangan berat, yaitu menyingkirkan saingannya, yaitu bernama Laksmana Mandrakumara putra Duryudana dari keluarga Kurawa. Dari perkawinan dengan Gatotkaca lahir seorang putra bernama Sasakirana. Ia menjadi panglima perang kerajaan Hastina pada masa pemerintahan Parikesit, putra Abimanyu atau cucu Arjuna. Versi lain mengisahkan, Gatotokaca mempunyai dua orang istri lagi selain Pregiwa yaitu Suryawati dan Sumpaniwati. Dari keduanya masing-masing lahir Suryaka dan Jayasumpena.
Perang Kurukhsetra dalam pewayangan Jawa biasa disebut perang Bhatarayudha. Kisahnya diadaptasi dan dikembangkan dari naskah Kakawin Bharatayudha yang ditulis tahun 1157 pada zaman kerajaan Kediri. Versi pewayangan Gatotkaca sangat akrab dengan sepupunya bernama Abimanyu putra Arjuna. Suatu hari Abimanyu menikah dengan Utari Putri karajaan Wirata, dimana ia mengaku masih perjaka.  Padahal saat itu Abimanyu telah menikah dengan Sundari putri Krisna. Sundari yang dititipkan diistana Gatotkaca mendengar suaminya menikah lagi. Paman Gatotkaca yang bernama Kalabendana meneui Abimanyu untuk mengajaknya pulang. Kalabendana adalah adik bungsu Arimbi yang berwujud raksasa bulat kerdil tapi berhati polos dan mulia. Hal itu membuat Utari merasa cemburu. Abimanyu terpaksa bersumpah jika benar dirinya telah beristri selain Utari, maka kelak ia akan mati dikeroyok musuh. Kalabendana kemudian menemui      Gatotkaca untuk melaporkan sikap Abimanyu. Namun Gatotkaca justru mamarahi Kalabendana yang dianggap lancang mencampuri urusan rumah tangga sepupunya itu. Karena terlalu emosi, Gatotkaca sampai memukul kepala Kalabendana. Meskipun perbuatan itu dilakukan tanpa sengaja, namun pamannya itu tewas seketika.
Menjelang perang Bharatayudha, Gatotkaca diangkat oleh Yudhistira menjadi panglima pasukan pihak Pandawa. Gatotkaca juga diberi kepercayaan untuk menjaga seluruh wilayah Kurusetra tempat berlangsungnya perang. Gatotkacapun patuh ketika Krisna, memintanya agar tidak mengeluarkan seluruh kesaktiaannya saat perang Kurusetra. Gatotkaca lebih banyak menjaga dari udara, dan turun bila memang perlu. Dia juga patuh ketika disuruh mengeluarkan kesaktian justru disaat piak Kurawa, dimedan laga dipimpin langsung oleh sang panglima Karna, yang telah diahadiahi senjata Konta Wijayadanu oleh Bathara Indra, beberapa sebelum perang.
Gatotkaca sadar betul bahwa saat dimintamaju kemedan laga, itu berarti ia akan sengaja dikorbankan menjadi tumbal dipihak Pandawa. Agar senjata Konta yang hanya bisa dipakai sekali itu, terhujam tubuhnya, hingga Arjuna selamat dari ancaman Karna. Ketika Bharatayudha meletus, Abimanyu benar-benar tewas dikeroyok para Kurawa pada hari ke-13. Esoknya pada hari ke-14 Arjuna berhasil membalas kematian putranya itu dengan cara memenggal kepala Jayadrata. Duryudhana sangat sedih atas kematian Jayadrata. Ia memaksa Karna menyerang perkemahan Pandawa malam itu juga. Karna terpaksa berangkat meskipun hal itu melanggar perang.
Mendengar para Kurawa melancarkan serangan malam, pihak Pandawa mengirim Gatotkaca untuk menghadang. Gatotkaca sengaja dipilih karena kotang Antrakusuma yang ia pakai mampu memancarkan cahaya terang benerang. Pertempuran malam itu berlangsung mengerikan. Gatotkaca berhasil menewaskan sekutu Kurawa yang bernama Lembusu. Namun ia sendiri kehilangan pamannya yaitu Breajalamadan dan Brajawikalpa yang tewas bersama musuh-musuh mereka.
Gatotkaca akhirnya berhadapan dengan Karna, pemilik senjata Kontawijaya. Iapun menciptakan kembaran dirinya sebanyak seribu orang hingga membuat Karna merasa kebingungan. Atas petunjuk ayahnya yaitu Bathara Surya, Karna berhasil menemukan Gatotkaca yang asli Iapun melepaskan senjata Kontawijaya kearah Gatotkaca. Gatotkaca coba menghindar dengan cara terbang setinggi-tingginya. Namun arwah Kalabendana tiba-tiba muncul menghadap Kontawijaya sambal menyampaikan berita dari kahyangan bahwa ajal dairi Gatotkaca telah ditentukan malam itu.  Gatotkaca pasrah terhadap keputusan dewata. Namun ia berpesan supaya mayatnya masih bisa digunakan untuk membunuh musuh.Kalabendana setuju. Ia kemudian menusuk pusar Gatotkaca menggunakan senjata kontawijaya. Pusaka itupun musnah bersatu dengan sarungnya, yaitu Mustabayang masih tersimpan didalam perut Gatotkaca.
Gatotkacapun tewas seketika. Arwah Kalabendana kemudian melemparkan mayatnya kearah Karna. Karna berhasil melompat sehingga lolos dari maut. Namun keretanya hancur berkepingikeping tertimpa tubuh Gatotkaca yang meluncur kencang dari angkasa. Akibatnya, pecahan kereta tersebut meleset kesegala arah dan menewaskan para prajurit Kurawa yang berada disekitarnya, tidak terhitung jumlah mereka yang mati.  

Daftar Pustaka
Nanda MH, Wayang Dan Tokoh,Bintang Cemerlang.Yogyakarta 2013                        

Unsur Cerita Rakyat

Senin, 01 Desember 2014


Cerita rakyat adalah cerita yang berkembang disetiap daerah dan menceritakan asal usul atau legenda yang terjadi disuatu daerah: cerita yang berasal dari masyarakat dan berkembang dalam masyarakat. Cerita rakyat merupakan bagian dari dongeng. Ciri-ciri cerita rakyat, yaitu :
1. Cerita rakyat disampaikan secara lisan
2. Disampaikan secara turun-temurun
3. Tidak diketahiu siapa pertama kali membuatnya
4. Kaya nilai-nilai luhur
5. Bersifat tradisional
6. Memiliki banyak versi dan variasi
7. Mempunyai bentuk-bentuk klise dalam susunan atau cara pengungkapannya.



1. Unsur Instrinsik

Unsur instrinsik adalah unsur yang membangun cerita dari dalam. Unsur-unsur instrinsik cerita rakyat,yaitu:

a. Tema
Adalah pokok pikiran yang dipakai sebagai dasar pengarang; pokok pikiran pengarang; ide pokok permasalahan.

b. Alur
Adalah jalannya cerita: rangkaian peristiwa yang membentuk cerita dengan dasar hubungan sebab akibat. Pada umumnya alur ada tiga macam, yaitu :
1.  Alur maju
Merupakan peristiwa-peristiwa yang disajikan secara berurutan dari peristiwa pertama ke peristiwa selanjutnya.
2. Alur mundur
Merupakan peristiwa yang diceritakan kembali.
3. Alur gabungan/ campuran
Merupakan gabungan dari alur maju dan alur mundur.

c. Latar
Keterangan tentang tempat, waktu dan suasana; tempat/waktu terjadinya peristiwa. Latar ada tiga macam, yaitu:
 - Latar tempat
Lokasi atau bangunan fisik lain yang menjadi tempat terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita.
 - Latar waktu
Waktu (masa) tertentu ketika peristiwa cerita itu terjadi.
 - Latar suasana
Salah satu unsur instrinsik yang berkaitan dengan keadaan psikologis yang timbul dengan sendirinya bersamman dengan jalannya cerita. Suatu cerita menjadi menarik karena berlangsung dalam suasana tertentu.


d. Tokoh dan Penokohan
Penokohan dalah lukisan watak pelaku; cara pengarang menggambarkan watak tokoh. Istilah tokoh menunjukkan pada orangnya, pelaku cerita, sedangkan pekonokohan menunjukkan pada sikap kualitas pribadi tokoh.
Dilihat dari fungsi penampilan tokoh dalam cerita, tokoh dibedakan atas dua, yaitu :
1. Protagonist adalah tokoh yang berfungsi memberikan simpati, empati, melibatkan diri secara emosional terhadap tokoh tersebut. Tokoh yang disikapi demikian disebut tokoh protagonist.
2. Antagonis adalah tokoh yang berfungsi menimbulkan konflik dan berposisi dengan tokoh protagonist.


e. Sudut Pandang
Kedudukan pengarang dalam cerita; cara pandang pengarang. Setiap pengarang memiliki sudut pandang penceritaan yang berbeda. Ada yang menggunakan sudut pandang penceritaan orang pertama (aku atau saya); ada yang menggunakan sudut pandang penceritaan orang kedua (kamu atau kau); dan ada juga yang menggunakan sudut pandang orang ketiga (ia, dia atau nama orang).


f. Amanat
Adalah pesan yang disampaikan pengarang.
  
2. Unsur Ekstrinsik    

Adalah unsur yang berada di luar karya sastra atau cerita namun turut menetukan bentuk dan isi suatu karya/cerita. Unsur-unsur eksttrinsik cerita rakyat, yaitu : agama, politik, moral, aliran pengarang, psikologi, sejarah, sosial budaya, dan lain-lain.

                                                          



Sulastri dkk. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Galaxy Puspa Mega.
Syamsuddin. 2007. Kompetensi Berbahasa dan Sastra Indonesia. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
 
Design by Pocket